Kesucian, Karat dan Api
KESUCIAN,
KARAT DAN API
Oleh
: Havsari Mega Ramadhani
Kala
itu Agustus 2014, satu ikatan suci dalam diri ini terlepas. Keunikan jiwa, raga
dan roh masuk ke dalam hidupku. Sebetulnya bukan kesucian baru yang dating kala
itu, melainkan kesucian yang bingung akan dirinya, kesucian yang sangat
mengikuti ego, kesucian yang sangat tertutup, kesucian yang manja, kesucian
yang penuh akan kasih sayang, kesucian yang menginginkan seseorang selalu ada
untuk dirinya. Kesucian yang satu ini memiliki derajat yang tinggi diantara
para kesucian yang lain yang pernah aku temui. Semakin dekat dan masuk kedalam
aku semakin mengerti kesucian itu. Pada akhirnya yang ingin aku sampaikan
hanya”Kenalilah kesucian itu maka semua kau dapatkan pada ruang dan dimensi
waktu tertentu”. Yang aku sayangkan “Kesucian terkalahkan oleh api, seperti
kayu yang telah menjadi abu”.
***
“Aku sangat menyayangkan
kesucianmu”
Kesucian itu,
kembalilah aku belum sempat menyampaikan pesan itu”.
***
Aku lalai dengan kesucian jiwaku sendiri, tertutup oleh
cahaya suci itu, sehingga aku terfokus pada satu titik. “Kesucianku dengannya
memiliki hubungan yang sangat erat. Dia tidak tahu itu, iya.. karena dia tidak
memahami kesuciannya itu. Sampai saat ini pun aku masih bisa merasakannya
walaupun tak setajam kala itu.
***
Kala itu 28 Oktober 2017, kami berada pada ruang dan
waktu yang sama. Sebelumnya, kesucian itu dating padaku untuk menumpahkan karat
di hati. Aku langsung memutuskan untuk bersamanya sampai larut. Dan.. benar,
dia menumpahkan karat itu, tapi aku sangat yakin itu hanya 1 dari 24 karat yang
ada, dan pada saat itu api pun menguasai dirinya, sehingga dia pun berhenti. 1
karat pun menurutku sudah mewakili 24 karat yang ada, Karena memang selama ini
aku paham kesucian itu. Aku paham saat ini dia merasa tidak nyaman, sehingga
aku memutuskan untuk kembali. Sebelumnya, yang aku berikan sedikit napas
bernada yang mungkin sama sekali tidak didengar olehnya. Tidak pernah mencoba
untuk tidak peduli terhadap kesucian itu, aku terus mengolah sehingga aku
memang benar-benar dapat memecahkannya.
***
Mei 2017. Kesucian itu semakin hari semakin jauh dariku,
entah kenapa kesucian itu mencari wadah lain. Aku merenungkan dan menyadari
sekaligus merasa tidak nyaman. Peristiwa itu berlanjut sampai sekarang
kesucianmu menolak wadah ini.
***
Desember 2017.
Akjir tahunpun menyadarkanku bahwa kesucian itu tertutup oleh api dalam
dirimu, tidak heran kalau kesucian itu tidak mau mendekati wadah ini. Dari
waktu ke waktu jiwa ini berontak khawatir. Khawatir pun ikut lenyap oleh api
yang kau puyai
***
Sekarang, aku masih menyimpan rapi kesucianmu itu. Sudah
tidak mengharap bertemu wadah. Kesucian itu abadi. Kesucianku telah banyak
hilang karena digerogoti kekecewaan secara perlahan. Bahkan sampai sekarang
kekecewaan memakan indra ini, alasan mengapa sudah tidak ada upaya untuk
bertemu lagi.
***
Kesucianku mengalahkan api ku
Api mu mengalahkan kesucianmu
2 hal yang tidak akan pernah
bertemu
Apapun yang terjadi, semua aku
kembalikan pada diriku,
diriku yang di dalam yang luas dan
biru ini.
Semua momentum yang ada tidak
pernah terlewat,
semua tersimpan rapi.
Semua mengajarkanku untuk selalu
sabar dan tabah
menghadapi apapun..
sabar yang di susul dengan hati yang ikhlas,
merelakan kesucian itu memilih wadah
lain….
Manusia itu suci
Segala kepunyaannya itu suci
Kesucian hanya milik manusia…
Manusia yang berTuhan dan mengenal
Tuhannya…
Comments
Post a Comment